Demi Masa…
Jadikanlah aku ,
keluargaku dan sahabat sekalian menjadi pengecualian orang2 yang merugi..
Berikan inspirasi
pada nalarku mengiringi jari jemariku…
Untuk mengabadikan
skenario skenario Mu Yang Maha Baik…
--------------------------------------------------------------------------
-The Great First Love and Guardian Angel -
Aku tidak ingat seluruh kejadian
diwaktu aku masih balita dulu.
Bagaimana ayah dan ibuku selalu terjaga setiap malamnya
karena tangisku.
Bagaimana mereka selalu berusaha membuatku tersenyum dan
menghentikan tangisku.
Aku tidak mengingat semua , bagaimana
upaya mereka dalam membesarkanku.
Mengajariku dari
mulai berbicara,berjalan, berlari, naik sepeda, membaca..
Aku disekolahkan di sekolah dengan biaya yang
cukup mahal bagi kami yang hanya berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Karena
itu, aku bertekad untuk belajar lebih tekun
tentang ilmu pengetahuan.
Ayahku seorang pegawai sedangkan ibuku adalah ibu
rumah tangga… Penghasilan ayah yang masih kurang untuk membiayai ketiga anaknya
membuat ibu berpikir bagaimana mencari tambahan pemasukan… Ibu pun bekerja
untuk menambah biaya sekolah kami, dengan berjualan makanan di kantin tempat
ayah bekerja.
Biasanya setiap jam 3 pagi ibu sudah bangun untuk
memasak untuk sarapan keluarganya dan masakan
yang akan dijual di kantin. Aku saat itu masih sekolah tingkat SMP sedangkan
adiku yg kedua dan ketiga di SD. Aku tidak dapat membantu banyak untuk ibu
dalam memasak, dan memang ibu tak terlalu suka jika aku terlalu ikut andil
membantunya. Ibu ingin aku konsenterasi dalam sekolah dan belajarku dan membantu adik-adikku dalam menyiapkan persiapan
sekolah. Setiap pagi ayahku mengantar adik-adiku ke sekolahnya. Sedang aku
pergi dengan menggunakan kendaraan umum. Tak lama dari itu, ibu akan menuju
kantin kantor ayah untuk berjualan. Ayah akan menuju tempatnya bekerja hingga
sore hari lalu menjemput ibu di kantin. Setelah itu ayah akan melakukan
pekerjaan sampingan di bengkel untuk penghasilan tambahan. Sedang aku dan adik-adikku,
sore hari kami pergi ke TKA &TPA Al Quran di dekat rumah untuk belajar
mengaji.
Aku melihat mereka kelelahan, ayah dan ibu…
Tapi tak pernah kudengar keluhan dari mereka…
Mereka selalu mengajariku banyak hal dari aku
kecil hingga aku tumbuh menjadi seorang gadis remaja . Mereka tetap mengajariku
mengenal dunia ini lebih banyak
Mereka tidak membiarkanku beranjak untuk
mengenal dunia ini sendiri. Mereka membekaliku banyak hal terutama mengajari
kami anak-anaknya untuk mengenal Tuhannya, Sang Maha Pencipta…
Ketika tengah malam aku terbangun untuk mengambil
segelas air. Aku sering melihat mereka sedang sholat atau duduk bersimpuh
berdoa. Aku tau mereka sedang menjagaku dan keluarga kami dalam tiap doanya.
-
Ayah dan Ibu- Bersama Toga Kelulusan -
Beberapa tahun setelah mempelajari tentang ilmu
perpajakan, akhirnya aku membereskan kuliahku dan menjadi seorang sarjana seperti harapan kedua
orangtuaku.
Aku melihat kedua orang tuaku tersenyum bahagia..
Senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya. Akupun merasa bahagia bercampur
sedih karenanya.
Seperti mahasiswa yang baru lulus pada umumnya,
aku pun mencari info lowongan pekerjaan dari kakak kelas yang sudah bekerja, info
di internet ataupun pengumuman di mading kampus.
Setelah dipertimbangkan, aku pun mengirim surat lamaran pekerjaan dan
CV ke beberapa perusahaan yang menurutku sesuai. Selang beberapa minggu,
Alhamdulillah, aku menerima panggilan
tes psikotes , tertulis dan wawancara di suatu perusahaan yang bonafit.
Aku memberitahu ayah dan ibu tentang kabar
gembira tersebut. Aku pun melihat kedua orang tuaku tersenyum bahagia. Ini
kedua kalinya aku melihat ayah dan ibu tersenyum bahagia seperti saat aku
wisuda. Mata mereka terlihat berkaca- kaca sambal mengucapkan Alhamdulillah
beberapa kali. Mereka bersyukur karena aku
mendapatkan pekerjaan yg mempunyai prospek yg baik untuk karirku.
Tapi pekerjaan ini membuat aku harus pergi ke ibu
kota dan jauh dari keluargaku. Sedih rasanya karena aku belum pernah pergi jauh
dan berpisah dari orangtuaku.
Mereka terus menyemangatiku, memberikan aku
wejangan untuk bisa menjaga diri didalam kehidupan di ibu kota. Meski mereka
tidak mengungkapkan kesedihannya, tapi aku melihat dari sorot mereka yang sedih
dan khawatir.
-Ayah dan Ibu, maaf anakmu sungguh disibukkan
di Ibu Kota ini-
Ibu Kota….
Aku bagai seorang yang asing di ibu kota ini,
kota yang tidak pernah aku datangi sebelumnya.
Tak ada kerabat satupun disini… aku benar-benar
harus mandiri
Kesibukan pekerjaan menuntunku sering bekerja
lembur bahkan pada weekend.
Sehingga aku jarang pulang ke rumah untuk
mengunjungi kedua orangtuaku dan adik-adiku.
Paling aku hanya menelepon mereka itupun tidak
setiap hari . Mendengar suara mereka
yang kegirangan menerima teleponku mengobati rinduku…
Tapi aku tau rinduku tak sebanding dengan rindu
mereka, orangtuaku….
-
Ayah dan Ibu, ridhoilah aku menuju pelaminan
-
Selang dua tahun
semenjak bekerja di ibu kota, aku bertemu seorang pria yang mengajaku
untuk menikah. Aku pun lalu membawanya ke rumah untuk diperkenalkan kepada ayah,
ibu dan adik-adikku.
Aku tanyakan pendapat orangtuaku mengenai dia,
lelaki yang memberanikan diri untuk bertemu dengan kedua orangtuak u ini. Entah apa yang ayahku pikirkan, cuma saat
terdengar adzan dzuhur itu ayah tiba-tiba
bilang ingin mengajaknya sholat berjamaah di masjid. Mereka pun lalu pergi
berdua kearah masjid. Di rumah sembari
menunggu, ibu menanyakan banyak hal dan
dengan detail mengenai sejauh mana aku mengenal lelaki yang sedang bersama ayahku
di masjid. Tapi anehhya, setelah 1 jam semenjak pergi ke masjid, mereka belum kembali juga kembali. Aku jadi
gelisah karenanya.
Setelah 75 menit menunggu, akhirnya mereka
kembali. Sekembalinya dari masjid, ayah mengucapkan salam dengan semangat dan
tersenyum manis kepada kita semua yang menunggunya dengan cemas..
Ternyata selama
di masjid itu, ayah mengajaknya berdiskusi. Baiklah, mungkin
banyak diskusi2 dan pertanyaan yang ayahku tanyakan pada dia..
Ayah bilang bahwa dia dan ibu merestui kami untuk
menikah. Aku bertanya kepada ayahku, kenapa
menyetujuinya, Ayah hanya berkata,
“Setelah mengajukan beberapa pertanyaan dan
berdiskusi panjang lebar ,
merujuk pada firasat seorang ayah dan
seorang lelaki, ayah menyetujuinya”
Tak lama dari pertemuan itu, kedua orangtuanya datang
untuk melamarku dan menentukan hari pernikahan. Selang 6 bulan dari hari lamaran itu kami pun melangsungkan
pernikahan.
Saat ijab qabul, Aku melihat ketegangan dibalut kebahagian
yang haru terpancar di mata kedua
orangtuaku. Alhamdulillah Ijab Qabul berjalan lancar dan SAH. Selesai ijab
qabul ada prosesi sungkeman kepada orangtua yang aku dan suamiku lakukan. Orangtuaku dan
mertuaku duduk di kursi yang sudah disediakan. Lalu kami pun melakukan
sungkeman dengan mata yang berkaca kaca lalu menangis karena tak kuasa menahan
air mata. Kali ini aku melihat kedua orangtuaku merasakan perasaan emosinal
yang lebih dalam, rasa bahagia campur aduk yang belum pernah kulihat
sebelumnya, jauh lebih emosional dibanding saat aku lulus kuliah ataupun
mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Seumur
hidupku, aku pernah melihat ibu menangis, tapi ayah, aku baru melihat air
matanya di hari ini, hari dimana aku menikah…
-Ayah dan Ibu sayang sekali
cucunya -
3 bulan kemudian setelah hari pernikahanku,aku
merasakan rasa mual, pusing yang amat hebat. Aku pun pergi ke dokter untuk
memeriksakan penyakitku. Dokter memberitahukan kabar gembira kalau aku positif
hamil.
Masa kehamilan itu masa-masa dimana ibu lebih
memperhatikanku. Perhatiannya lebih-lebih dibanding saat aku dulu sekolah ,
kuliah, ataupun menghadapi skripsi.
Setiap hari, ibu selalu lebih awal menghubungiku,
menanyakan kabarku, menasihatiku, memberikan aku wejangan2 berdasarkan
pengalamanya. Hanya untuk memastikan aku
bisa melewati tahap ini dengan sehat dan selamat.
Ketika anakku lahir kedunia, ayah dan ibu seperti
menjadi orang paling bahagia melebihi kebahagiaan yang kurasa.
Aku belum pernah melihat mereka sebahagia ini,
lebih bahagia dibanding saat aku lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan yang
bagus, ataupun menikah…
Mereka akan lebih rajin menghubungiku, berkunjung
ke rumahku terutama cucu kesayangan mereka. Lama-lama, anakku ini bisa membuat
aku iri. hehehe
Kilas balik,,,,
Rasa bahagia ketika menggendong cucu mereka itu
ternyata lebih membuat mereka bahagia
dibanding saat aku memberikan sebagian gaji pertamaku, membelikan
sepatu, baju dan tas dan lainnya.
Karena saat itu meski mereka senang pasti selalu
ada pertanyaan yang mengikuti, berapa harganya? apa uang tabunganku masih
cukup?
Kemudian ayah dan ibu selalu bilang padaku agar
aku pandai pandai menyimpan uangku, menabungnya untuk masa depanku, bahkan
ketika aku ingin membantu mereka untuk membiayai adik adikku yang masih
bersekolah. Mereka tetap mengatakan agar aku pandai-pandai menyimpan uang
untuk masa depanku. Selama orangtuaku mampu, mereka tidak ingin terlalu membebaniku.
Ayah dan Ibu, rasanya aku ingin
pulang ke rumah
Pernah suatu hari ketika ibu sedang menginap
dirumahku, ibu melihatku menangis karena ada masalah dengan suamiku yang
menyebabkan kami bertengkar.
Dia memandangiku dengan iba, mencoba mendekatiku
dan menenangkan aku.
Aku tidak pernah melihatnya begitu sedih, bahkan
tidak pernah sesedih saat ayah dan ibu dulu kekurangan uang untuk membiayai
kami sekolah, hingga kami harus makan hanya dengan sayur, tahu dan tempe.
Ibu menasehatiku dan mengajariku untuk sabar
dalam menghadapi ujian ini “ setiap manusia itu pasti memiliki masalah, tidak
ada jalan yang amat mulus di dunia ini. Sikapilah dengan sabar dan bijak, semua
yang berasal dari Allah, kembalikanlah padaNya. Ujian ini datang dari Allah untuk
mengajarimu dan mendidikmu menjadi manusia yg lebih bernilai baik. Semua hal yg
terjadi memiliki alasan yg kelak engkau akan mengerti” ucap ibu
Dan ayah, ketika ibu memberitahunya.. ibu
bercerita kepadaku kalau ayah belum pernah terlihat sedongkol ituh. Ingin
sekali rasanya ayah menasehati bahkan memarahi suamiku, tapi tak bisa. Ayah
tahu bahwa itu hanya akan membuat kami tidak akan pernah belajar dan memahami
arti sebenarnya dari keluarga, memepertahankan komitmen yang sudah kami buat.
Jadi ayah hanya berbicara kepada ibu agar menasehatiku.
Memang aku tidak mengerti apa maksudnya hingga aku mampu melewati semua
permasalahan itu, dan belajar bnyak hal yg membuatku semakin bijak.
-Ayah, Sakitkah rasanya?-
Ayah,
sakitkah rasanya? Apakah kau mau membagi sakitmu? Katakan saja jika itu sakit,
tapi engkau tidak bilang apa2 nya. Aku hanya melihat keningmu mengkerut dan bibir
meringis menahan rasa yang tertahan
Saat usianya 63tahun, ayahku difonis sakit gagal
ginjal, membuatnya harus melakukan hemodialisis/ cuci darah terus menerus agar racun yang ada di dalam tubuhnya bisa
terbuang. Awal perawatan, ayahku hanya perlu cuci darah 2 minggu sekali. Proses hemodialisis sendiri memerlukan waktu
4-5 jam. Hanya saja, aku tidak bisa menemani ayahku setiap kali cuci darah,
karena bentrok dengan jadwal aku
bekerja, kecuali saat weekend, aku
pasti akan menemani ayah pergi ke rumah sakit untuk melakukan hemodialisis.
Ayahku sering mengajak anakku atau anak adikku untuk menemaninya ke tempat cuci
darah,
Setelah 6 tahun perjuangannya, mulai terlihat
tanda2 yang berbeda dari fisiknya. Kulit kakinya mulai berubah menjadi berwarna hitam. Dokter
bilang itu karena penumpukkan Fe di permukaan kulit yg tidak
terbuang.
Kadar kreatinin nya terus mengalami peningkatan,
hingga dari jadwal dua minggu sekali itu ayah harus cuci darah menjadi seminggu
sekali, lalu menjadi tiga hari sekali. Hingga pada puncaknya, di suatu hari , ayah
harus dibawa kerumah sakit dan masuk ruangan ICU karena komplikasi yang
diakibatkan gagal ginjalnya. Badannya yang sekarang benar2 kurus dan menghitam
di bagian kulit tangan dan kakinya, mimik mukanya memperlihatkan bahwa ayah
sedang menahan sakit.. rasa sakit yang tertahan di bibirnya, hingga ayah tak
mengeluh sedikitpun pada kami… Ya Allah, aku sedih sekali, melihat seorang yang
dulu sangat gagah dan kuat sekarang terbaring tak berdaya . Alat-alat
Hemodialisa , ECG(pemeriksaan heart rate),Sp02 (Saturasi darah), NIBP (tensi)
dan lainnya sudah berada disamping pembaringannya untuk setiap hari memonitor keadaan dan membantunya bertahan .
Entahlah apa kami keluarganya harus terus
membiarkan ayah dirawat disini atau pulang saja ke rumah. Suatu waktu, ketika
sedang menunggu di ruangan ICU, adikku bercerita dengan raut muka sedih,”Tadi ayah
tersadar, dia bilang dia ingin pulang”. Aku tertegun, dan dalam hati
berkata, “Ayah, apakah engkau mau pulang
ke rumah kita atau pulang ke rumah keabadian? Bertemu dengan Rabb yang engkau cintai”
Ayahku hanya bertahan 2 minggu di ICU, di akhir
hayatnya, aku tidak sempat menyaksikan atau membimbingnya mengucapkan kalimat
tauhid saat sakratul maut. Saat itu hanya ada kedua adikku yang berada di
sampingnya . Alhamdulillah di akhir hayatnya sebelum menghembuskan nafas yang
terakhir, ayah bisa mengucapkan kalimat “Lailahaillah Muhammad Rasulullah”
Kalimat yang selalu menjadi impian setiap muslim untuk dapat mengatakannya
sesaat sebelum nafas sampai di kerongkongan dan ruh terlepas dari jasad. Semoga
ayahku meninggal dengan khusnul khotimah..
Air mataku bercucuran saat menerima berita bahwa ayah telah meninggal. Sedih
sekali rasanya, tak bisa diwakilkan oleh kata-kata. Meskipun aku yakin kalau kita semua memang
suatu waktu akan pulang, pulang ke rahmatullah, tempat untuk kehidupan yang
abadi…
Kembalinya seorang hamba kepada
Sang Khalik
Pernahkah
kau sadari, bahwa ketika seseorang meninggal… semua proses pengurusan jenazah
hingga pemakamannya , menunjukan
bagaimana dia hidup di dunia?
Ayahku yang sudah dimandikan dan dikafani di
Rumah Sakit dibawa menggunakan ambulans ke rumah ibu. Menunggu beberapa jam
hingga keluarga dari ayahku dan ibuku berkumpul.
Masya Allah banyak tetangga, teman-teman alm ayah dan ibu silih berganti
berdatangan untuk takziyah, mengucapkan belasungkawa. Begitupun saat shalat
jenazah, Mesjid yang cukup besar ini dipenuhi oleh mereka yang ingin sholat
jenazah. Bahkan penuhnya seperti sedang sholat taraweh saat Ramadhan ataupun
saat sholat Jum’at.
Aku berada di mobil di belakang mobil jenazah
yang menuju pemakaman. Saat akan berangkat, aku melihat ke arah belakang. Masya
Allah, banyak sekali iringan mobil-mobil tetangga dan teman-teman alm. ayah
yang akan menuju pemakaman. Bahkan ada bus yang sengaja dipinjamkan dari tempat
kantor ayah dulu saat bekerja.
Aku tak tahu bagaimana detailnya sikap dan
perilaku ayahku terhadap semua teman-temanya dan tetangganya selama hidupnya.
Yang aku tahu, ayah memang ramah dan perhatian terhadap setiap orang yang dia
kenal. Dalam memoriku, ia adalah ayah yang terbaik bagiku, sosok yang rajin
beribadah, bertanggung jawab, tegas, namun penuh kasih sayang. Aku sangat
bersyukur karena ditakdirkan menjadi
anaknya.
Semoga Allah mengampuni, menyayangi dan
memberikan tempat terbaik bagi alm. Ayah di alam barzah.
Ayah, I will always Love You and remember you as
my first love..
Ya Allah Sayangi Ibuku
Ya Allah, aku merasa ada rasa sedih yang mendalam
dalam hatiku semenjak kembalinya ayah ke sisi-Mu. Aku sedih karena merasa
menyesal selama masa tuanya aku kurang begitu totalitas berbuat baik kepadanya
dan kurang menghabiskan waktu bersamanya . Salah satu penyebabnya karena kami
tinggal dikota yang berbeda. Biasanya aku mengunjungi ayah sekitar 2 minggu
sekali atau bahkan pernah sebulan sekali ketika aku punya acara di hari weekend atau pergi bersama suamiku dan
anak-anakku.
Karena alasan itulah, setelah kepergian alm. ayah,aku meminta ibu untuk tinggal bersamaku. Hingga aku bisa
terus bersama ibu di masa tuanya dan agar ibu tidak akan merasa kesepian di
rumah. Setidaknya, ketika tinggal bersamaku, ibu akan terhibur oleh
cucu-cucunya.
Ibu….
Aku tidak pernah tau takdir Allah, tapi kematian
itu adalah sesuatu yg pasti..
Aku hanya ingin masih bisa memandang wajah ibu
setiap hari ,memohon maaf sebanyak-banyaknya kepadamu selagi sempat, merawatmu,
memenuhi semua kebutuhanmu…
Meski aku pada ibu tidak akan pernah sebanding …
Aku tidak akan bisa setelaten ibu saat mengurusku
ketika aku masih bayi, bangun tengah malam hanya untuk mengganti popok atau
menyusui… Aku tidak akan sebanding
sabarnya, sesabar ibu mengajariku saat
aku berjalan, memapahku, mengajariku kata-kata…
Terimakasih ibu, memberikan aku waktu di sisa
umurmu untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang tidak akan pernah bisa sebanding
dengan apa yang sudah kau lakukan dalam membesarkanku…
Ibu, I Love You So Much…You are my guardian angle