Entri Populer

Selasa, 03 Februari 2015

Lentera Negeriku


Fabiaayi a’la irrobikuma tukadziban...

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

QS Ar Rahman, 55 : 16


Lentera negeriku….

 Sahabat, masih ingatkah masa-masa sekolah kita sewaktu di SD?

Masa dimana kita belajar di kelas dengan seragam putih merah.

Masa-masa sekolah tentu mempunyai kesan tersendiri bagi kita.

Alhamdulillah jika dahulu kita bersekolah di tempat dengan bangunan yang layak dan fasilitas tercukupi.  

Tapi pernahkah terbesit pertanyaan dalam diri kita bagaimana jika kita bersekolah di daerah pedalaman? Jika akses kita menuju ke sekolah tidak mudah, perlu melalui perjalanan jauh, melewati jembatan kecil untuk tiba disana.

Bagaimana jika sekolah kita keadaan bangunannya tidak begitu bagus, hingga saat kita melihat kelangit ruang kelas, kita akan langsung melihat pondasi-pondasi kayu dan atap.

Bagaimana jika kita harus belajar dengan menggunakan meja kecil dan duduk beralaskan karpet tipis.

Begitulah gambaran situasi yang sedang dihadapi adik-adik di sekolah madrasah diniyah takmiliyah awwaliyah mursyidul. Meskipun keadaan ruang kelas tidak sebagus sekolah di kota-kota dan  fasilitas buku terbatas jumlahnya, mereka  tetap pergi ke sekolah demi memperoleh pendidikan.

Mau tau tentang sekolah madrasah diniyah takmiliyah awwaliyah mursyidul lebih baik?

Yuk kita mengenal keadaan sekolah adik-adik sebangsa dan setanah air kita =)

 


 


Sekolah madrasah diniyah takmiliyah awwaliyah mursyidul falah berdiri tahun 2002. Sekolah diniyah dibangun untuk membantuk siswa siswa SD dan SMP memperoleh ijazah. Karena pemerintah daerah Banten mempunyai peraturan untuk sekolah tingkat SD dan SMP,  bahwa setiap muridnya harus memiliki ijazah dari sekolah diniyah.

 

Sebelum bangunan ini didirikan, para murid belajar  di dalam rumah di ruang tamu di rumah Pak Suntama, yang merupakan pengelolah sekolah diniyah . Kemudian dengan dana pribadinya, Pak Suntama mendirikan bale –bale  agar tempat belajarnya lebih luas. Pada tahunn 2011,ada bantuan dari pemerintah untuk pembangunan bangunan sekolah diniyah ini.



 

 


Sekolah ini terdiri dari 4 (empat) kelas. Kelas 1 (satu) di sekolah diniyah ini adalah setingkat kelas 3  (tiga) disekolah negeri. Saat pagi hari, bangunan sekolah ini digunakan untuk  PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Sekolah PAUD didirikan dua tahun yang lalu.  Murid PAUD berjumlah 24 orang siswa . Murid-murid di sekolah PAUD belajar 5 (lima) hari dalam seminggu. Adapun  biaya sekolah PAUD ini yaitu setiap murid diharuskan untuk membayar seribu rupiah untuk setiap harinya. Sedangkan saat sore hari , bangunan sekolah ini digunakan untuk sekolah dinniyah . Sekolah  diniyah memiliki murid sebanyak  62 orang.  Murid – murid yang bersekolah di sekolah diniyah  berasal dari tiga kampung di dua desa. 

 

 Sekolah ini  memiliki 3 (tiga) orang guru sekolah  PAUD dan tiga orang guru sekolah diniyah. Sebagai informasi tambahan,  gaji guru  untuk sekolah diniyah adalah Rp. 60,000.00/bulan. Sedangkan guru PAUD gajinya tergantung dari total  iuran dari murid-murid yang kemudian dibagikan jumlah total guru PAUD yang ada di sekolah ini. Jika jumlah muridnya da 24 orang, dan  setiap murid membayar Rp. 1,000.00 maka total iuran sebanyak Rp. 24,000.00 akan dibagi untuk ketiga guru PAUD yang ada di sekolah itu. Sehingga setiap guru PAUD akan memperoleh bayaran sebesar Rp. 8,000.00/hari. 

Sumber dana untuk sekolah diniyah berasal  dari dana BOS. Setiap siswa memperoleh bantuan Rp. 20,000.00/bulan. Dana BOS diperoleh setahun sekali.  Dana tersebut nantinya akan dipotong biaya buku, ulangan dan rapor dari departemen agama. Rencananya tahun 2015, dana BOS akan dibagikan setiap enam bulan sekali. Hanya saja belum terealisasi hingga saat ini. Pak Suntama merupakan satu-satunya guru di sekolah diniyah ini yang memperoleh  dana yang  berasal  dari sertifikasi. Adapaun dana tersebut sebesar Rp. 3,000,000.00, diperoleh setahun sekali. Pada tahun 2014, sekolah diniyah  memperoleh dana BOS sebesar Rp. 1,2000,000.00. Dana tersebut kemudian dipotong biaya buku, ulangan, dan rapor dari departemen agama. Sehingga setiap guru memperoleh ± Rp. 600,000.00. Sedangkan sekolah PAUD belum mendapatkan bantuan dari pemerintah.



Bagaimana pendapat sahabat sekalian setelah melihat gambaran keadaan sekolah madrasah diniyah takmiliyah awwaliyah mursyidul dan PAUD? Apakah ada sesuatu yang tergerak di hati kita melihat keadaan ini?

Jika jawaban kamu IYA, Yuks mari kita dukung adik-adik di sekolah diniyah dan PAUD untuk memperoleh fasilitas yang lebih baik dalam belajar. 

Lentera Negeriku adalah salah satu  kegiatan sosial yang bertujuan berbagi alat tulis, buku tulis, buku bacaaan, Al Quran, perlengkapan sholat, perlengkapan belajar di kelas seperti meja kecil, karpet dan lemari. 

Kami pun mengajak sahabat sekalian untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Partisipasi sahabat sekalian dalam kegiatan lentera negeriku dapat diberikan  berupa uang , buku-buku pelajaran ataupun buku bacaan layak baca dan  bermanfaat.  Sahabat sekalian pun dapat ikut berpartisipasi saat pelaksanaan sebagai volunteer. Info mengenai kegiatan sosial  lentera negeriku Sekolah madrasah diniyah takmiliyah awwaliyah mursyidul falah dapat dilihat dari poster di bawah ini :  



Semoga dengan dukungan kita ini, kita sudah mendukung gerakan mencerdaskan generasi muda Indonesia.

Demi generasi muda Indonesia yang lebih baik =)


Sumber foto :

https://m.facebook.com/pages/Semoga-Tuhan-Allah-SWT-Mengabulkan-Semua-DOA-Harapan-Kita-Semua