Demi Masa…
Jadikanlah aku ,
keluargaku dan sahabat sekalian menjadi pengecualian orang2 yang merugi..
Berikan inspirasi
pada nalarku mengiringi jari jemariku…
Untuk mengabadikan
skenario skenario Mu Yang Maha Baik…
-------------------------------------------------------------------------------------------
Hujan di Ibukota di pagi hari
ini, seperti de javu untukku, situasi yang sama beberapa minggu yang lalu, di
sebuah mushola kecil di Pom bensin PAL Batu, ada perbincangan yang hangat di
tengah hujan deras bersama para sahabat…
Dan aku pun teringat perkataan salah
seorang sahabatku …
“Ketika kita bertemu dengan
mereka yang keadaanya tidak lebih baik dengan kita dan berfikir bahwa mereka
memerlukan pertolongan kita. Padahal tidak selalu mereka yang membutuhkan
pertolongan kita, tetapi terkadang kitalah yang butuh orang- orang seperti
mereka sebagai pengingat sekaligus mengambil pelajaran/ nasehatnya”
Tumpukan koran yang tertumpuk di
sudut kursi di depan sebuah pom bensin…
Memiliki cerita dalam lembarannya…
Cerita yang seperti sebuah
tamparan kasat mata di siang hari bagiku…
Sosok kakek penjual koran itu
seperti mengkonversi lantunan ayat dalam
Surat Ar Rahman berulang ulang kali di hadapanku dan sahabat-sahabatku.
فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٦)
“Fabiaayi a’la irrobikuma
tukadziban”…QS Ar Rahman, 55 :16
“Maka nikmat Tuhan kamu yang
manakah yang kamu dustakan?”
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Beberapa minggu yang lalu,
salah satu sahabatku, intan, bercerita di blognya mengenai pertemuannya dengan seorang kakek penjual
koran di Pom Bensin PAL Batu, seberang
kota kasablanka mall.
Kakek yang menarik perhatiannya,
karena di umurnya yang sudah renta , dengan
kondisi penyakit yang dideritanya . Kakek ini kehilangan seluruh batang hidung,
bibir bagian atas, dan mata sebelah kanan akibat penyakitnya. Bagian hidup
hingga bibir bagian atasnya ditutupi plester.
Intan teringat kata2 seorang
temannya di blog ;
“ Kakek – kakek tua menjajakan
barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan
warungnya yang selalu sepi, carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang
dari merekam meski kita tidak membutuhkanya saat ini. Jangan selalu beli barang
di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”
Lalu Intan pun menghampiri kakek
untuk melihat lebih dekat dan sekaligus membeli
koran yang sedang dijualnya. Betapa terkejutnya dia, karena surat kabar yang
dijual kakek dijual dengan harga yang tergolong wajar. Contohnya surat kabar
harian kompas hanya dijual seharga Rp. 5,000.00.
Kabar tentang kakek pun jadi
pusat perhatian di salah satu grup whats-up kami . Karena setiap kali intan
pergi mengisi bensin,ia mengusahakan untuk membeli koran, dan berbincang dengan si kakek.
Sehingga dari hari kehari informasi
mengenai kakek dan kehidupannya pun kami peroleh melalui dek intan. Kami pun berdiskusi mengenai hal2 yang bisa membantu
kakek.
Disela-sela perbincangan di grup
itulah, salah satu sahabatku akhway, nge-post
satu kalimat yang membuat kita lalu merasa uwoooo,,, that’s right!
Kalimatnya itu :
“Tidak selalu orang yang kita
anggap butuh pertolongan kita, tetapi kitalah yang butuh orang- orang seperti
mereka sebagai pengingat sekaligus mengambil pelajaran/ nasehatnya” - akhway
Selang beberapa minggu, akhirnya
di suatu sabtu siang, aku dan kedua sahabatku, cicit dan ilmi janjian untuk
menemui kakek di Pom Bensin PAL Batu, tempat ia berjualan. Saat itu aku yang
pertama kali tiba di pom bensin. Aku mulai celingak
celinguk mencari sosok kakek penjual koran itu. Tapi sejauh mata memandang,
aku tak menemukan sosok kakek.
“Apa kakek sudah pulang ya
kerumahnya ?“pikirku.
Masih penasaran, aku pun bertanya pada petugas Pom bensin. Petugas pom bensin itu memberitahu, bahwa kakek
penjual koran itu biasanya sudah pulang
ke rumahnya jika sudah jam 10 dan akan kembali lagi sekitar pukul 3 sore.
Tak lama kedua sahabatku pun
datang , lalu aku kasihtau mereka bahwa kakek
sudah pulang ke rumahnya. Kami pun memutuskan untuk datang kembali ke
Pom Bensin sekitar jam 3 sore. Untuk
memastikan bahwa kakek tidak keburu pulang lagi, aku menitipkan pesan pada
penjual buah yang ada disana, Sambil membeli
melon . hehe
Pak,kakek penjual koran yang disini sudah pulang ya
pak?
.“Wah tadi sih ada mbak, kayaknya
sudah pulang kalau jam segini. Tapi biasanya nanti jam 3 sore biasanya kakek
kesini lagi” jawab penjual buah.
“ Pak, tolong nanti kalau kakek
kesini lagi sore hari, sampaikan bahwa kami teman2 dari wanita berkerudung yang
pagi2 suka beli koran dan mengobrol
dengan kakek , mau bertemu dengan kakek.
Jadi kalau bisa, kakeknya
jangan dulu pulang ya pak.”
“Iya mbak, nanti saya sampaikan”.
Jawab penjual buah
“Terimakasih ya pak” ucapku
sambal tersenyum.
Lalu aku dan sahabatku2 pergi
mencari makan siang sambal menunggu jam 3. Tak lupa juga untuk update info whats-up
grup bahwa aku tidak menemukan kakek penjual koran dan akan kembali kesana
sekitar pukul 3 sore.
Sekembalinya di jalan menuju pom
bensin, kami melihat sosok kakek penjual koran itu. Beliau sedang berjalan
hendak meninggalkan pom bensin dengan membawa kantong plastik. Lalu kami pun
cepat-cepat menghampirinya.
“Permisi kek, kami temannya intan
yang sering mengobrol dengan kakek pas
beli koran.” kataku sambil memperkenalkan diri .
Kakek pun menganggukan kepalanya,
sambal berkata “ Oh iya iya. Tadi tukang buah bilang ada yang mau ketemu dengan
saya, jadi saya tungguin. Cuma karena saya mau sholat jadi saya berencana
pulang dulu ke rumah. “
Kemudian kakek pun mengajak kami
ke arah meja dan kursi, tempat sales mobil yang sedang promosi. Kebetulan
kosong, dan kakek sudah kenal sama sales2 nya, jadi ya kita bisa duduk disitu
sambil mengobrol bersama kakek.
Aku memperhatikan sosok kakek yang aku tahu hanya
dari cerita intan dan foto yang di share
nya .
“Ya Allah” kataku dalam hati.
Bagian hidung kakek hingga bibir
atas tertutup oleh plester. Bagian mata kanan kakek pun sudah tidak ada. Kakek
hanya dapat mata kirinya untuk beraktifitas.
Kami agak sulit mengerti kata2
kakek, karena bagian atas bibirnya sudah tidak ada, sehingga kata yang diucapkan itu tidak terlalu jelas terdengar.
Ketika mengobrol dengan kakek, aku harus
mendekatkan kursiku dan berkonsentrasi agar dapat mendengar kata-kata kakek
dengan lebih jelas.
Ya Allah, “Fabiaayi a’la irrobikuma
tukadziban”… “Fabiaayi a’la irrobikuma tukadziban”…
Ayat2 Al – Quran itu terus
terbesit dikepalaku, setiap kata2 yang kakek ucapkan seperti lantunan yang
mengingatkan aku akan ayat dalam Surat Ar Rahman.
“Bagaimana kabarnya kek?” tanyaku
“Alhamdulillah baik.” Jawab kakek
“Korannya sudah habis terjual ya
kek?” kata cicit
“ Iya alhamdulillah, sudah tadi
terjual semua” jawab kakek sambil tersenyum.
“Kakek sudah lama bekerja disini?”
kataku
“Ya sudah cukup lama” kata kakek
“Rumah kakek dimana?” tanya cicit
“Rumah saya di belakang”, jawab
kakek sambil menunjuk ke arah belakang pom bensin.
“Saya tinggal sama anak
saya. Anak saya ada 6 orang, Sekarang
saya tinggal bersama anak saya yang rumahnya dibelakang pom bensin. Dia kerjanya
satpam.” Jelas kakek.
“Saya menyekolahkan anak saya hingga
SMA dari hasil mengamen” tambah kakek.
“Wah, berarti suara kakek boleh
juga ya,” jawabku sampai tersenyum
Dan kakek pun ikut tersenyum
Tiba-tiba kakek bercerita, ”Istri
saya sudah meninggal 2 tahun yang lalu, meninggalnya saat sedang melaksanakan
sholat shubuh. Saat sujud kedua tidak bangun lagi, kakek bercerita dengan
senyum tipis. Kakek bercerita sambil mengingat sosok istrinya.
AKu, cicit, dan ilmi serentak
mengucapkan masya Allah.
“Alhamdulillah, semoga khusnul
khotimah istri kakek” kata cicit
Sepertinya kakek sedang
merindukan istrinya J
dan kurasa kakek benar-benar mencintai istrinya. Bayangkan sajah, Kakek menderita sakit sejak tahun 82 dan selama itu
pun sang istri menemaninya dalam melawan penyakitnya.
Ya, kakek telah menderita sakit
sejak dari tahun 82. Beliau sudah mencoba berobat kesana kemari. Berobat ke
rumah sakit khusus kanker yang ada di Jakarta pun pernah. Tetapi , memang untuk
masalah biaya, kakek menggunakan dana pribadi, hasil menjual rumahnya yang ada
di BIMA. Karena tidak ada bantuan untuk meng-cover semua biaya operasinya. Kakek sudah dioperasi sebanyak tiga
kali. Saat ini pun kakek disarankan untuk operasi lagi. Tapi kakek memilih
untuk tidak melakukan operasi. Ya mungkin karena pertimbangan biaya dan umur
yang sudah tua.
"Kek, sudah mendapatkan
bantuan dari pemerintah yang baru2 ini
dibagikan?”tanyaku
“ Tidak dapat” saat itu kakek
menjawab sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
“tapi di pemerintahan sebelumnya
pernah mendapatkan bantuan sekali” tambah kakek.
Entahlah apa belum dapat atau
tidak dapat, tapi kakek tidak mengeluhkan atau complain tentang pemerintahan secara
berlebihan di depan kami. Kakek lebih
senang berbicara tentang kehidupanya, perjuangannya dan pengalamannya selama
ini.
Oia, meskipun kakek terserang
penyakit di bagian mukanya, keadaan fisik kakek secara umum terlihat sehat dan
untuk berjalan pun masih tergolong berenergi untuk seumuran kakek.
“Kek, apa sih rahasia kakek agar
tetap bersemangat dan sehat” Tanya cicit
Kakek pun memberitahu kami resep
semangat dan kebugaran miliknya. Kami agak kesulitan ketika kakek menasehati kami agar membaca nama surat dalam
Al Quran.
Cicit pun berkata “ Bentar kek
ditulis saja,.”
Lalu aku mengeluarkan note book dan pulpen dan memberikan pada
kakek untuk menuliskan surat yang dimaksud.
“Al Kahfi”, tulis kakek.
Kami bertiga serentak berkata ‘”oooo,
Al Kahfi”
Kakek melanjutkan menuliskan nama
surat Ar Rahman dan “Tabarakalladzi”.
Ilmi lalu berkata “Itu surat Al
Mulk”
“Mungkin kakek tidak hapal kalau nama
suratnya Al Mulk dan hanya mengingat ayat pertamanya saja yang sering dibacanya.”
pikirku
Berikut poin-poin penting nasehat dari kakek yang
kami rangkum :
1. Jangan pernah meninggalkan
sholat 5 waktu
2. Lakukanlah sholat dhuha dan
tahajud
3. Selalu baca Al Quran meski
Cuma 1 ayat sehari
4. Membaca Surat Al Kahfi pada
malam Jumat/hari Jumat
5. Membaca Surat Al Mulk
6. Menghormati kedua orang tua
7. jangan lupa selalu terenyum
karena senyum itu adalah ibadah
8. Selalu berbagi dan memberi
9. Sabar dan tabah dalam
menjalani kehidupan dan percaya pada pertolongan Allah
Tentang menghormati kedua orang
tua, kakek menceritakan saat terakhir beliau pulang ke BIMA. Sebelum
orangtuanya meninggal, alhamdulillah
kakek masih sempat untuk bersimpuh di kaki kedua orangtuanya untuk meminta maaaf .
Kakek bercerita sambil meneteskan
air mata.Kami yang mendengarnya jadi ikut terbawa suasana haru.
Begitupun aku, yang saat itu
langsung teringat kedua orang tuaku.
“Kakek, sebenarnya saya dan teman2
lainnya yang hari ini tidak hadir, berencana untuk silaturahmi ke rumah kakek.”
Kataku
“Boleh boleh. Tapi kalau mau ke
rumah, kasih tau saya sebelumnya. Takutnya,
saya sedang tidak di rumah anak saya, yang di belakang pom bensin. Karena terkadang saya tinggal di rumah anak
saya yang lain.” jawab kakek
“Baik kakek, nanti kalau kami mau
silaturahmi ke rumah kakek, intan atau teman kami yang lain akan ke pom bensin,
untuk memberitahu kakek.” kataku
Sebelum berpamitan, kami
memberikan kantong berisi plester dan
kain kasa untuk kakek. Aku dan teman – temanku memang berniat untuk membelikan
plester dan kain kasa.
Sebelumnya intan bercerita kalau
kakek harus ganti plester setiap habis berwudlu. Salah satu temanku, yang dipanggil uni, seorang
apoteker, jadi aku bisa bertanya-tanya
perkiraan kebutuhan plester dan kasa untuk kakek selama sebulan.
Sekedar sharing sajah untuk informasi, Harga plester di suatu apotek merk leucoplast
ukuran 2.5 cm x 5m/pc itu sekitar Rp. 34,000.00 dan kain kasa 4mx8cm seharga
Rp. 12,000 atau Rp 18,000 untuk merk yang berbeda sedangkan kasa kotak 16 pcs seharga Rp, 9,000
atau Rp 5,000 untuk merk yang berbeda.
Jika kakek mengganti plesternya
setiap habis sholat kemungkinan setiap minggu akan membutuhkan ±1 roll plester
dan± 1 roll kasa. Kalau dijumlahkan,dalam waktu seminggu kakek membutuhkan ±Rp,
46,000 untuk biaya plester yang menutupi bagian hidungnya.
Kakek menerima plester dari kami sambil tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Kemudian
kakek mendoakan kami semua. Doa pun diakhiri dengan membaca Al Fatihah bersama.
Lalu kami mengaamiinkan dengan penuh semangat.
Semoga kakek pundiberikan rejeki
dan kesehatan dan semoga banyak orang yang mau membantu kakek, setidaknya untuk
mengurangi pengeluaran kebutuhan kakek. Aamiin
Lalu kakek berpamitan pulang . “Assalammualaiykum”
ucap kakek
Dan kami bersama sama menjawab “waa’laiykumsalam”
Tak lama, sahabat kami, intan
datang. Intan memang berencana untuk ikut bertemu dengan kakek. Namun karena
ada kerja overtime di kantornya, dia baru
bisa datang pada sore hari.
Karena kakek sudah pulang, Intan mengajak kami untuk ke rumah kakek. Lalu
intan membuka isi dompetnya dan mengeluarkan secarik kertas yang tertulis alamat rumah kakek.
Kami menyusuri jalan yang ada di
sebelah pom bensin dan berhenti di depan
warung untuk bertanya pada pemilik
warung di pinggir jalan. Saat kami
tanyakan alamat kakek, bapak- bapak disana kebingungan dan saling bertanya satu
dan lainnya.
Lalu aku berkata “Sebenarnya kami cari alamat rumah kakek2 yang penjual koran di pom bensin
di pal batu . Kakek yang pake plester di bagian hidungnya, ada yang tau kah
pak?”
“Oh, kakek itu” bapak2 itu
serentak menjawab dan menunjukan arah rumah kakek .
Kami mengikuti petunjuk arah lalu
menemukan pemukiman padat penduduk. Namun
hujan tiba-tiba turun dengan deras, dan hanya 2 orang dari kami yang membawa payung dengan ukuran kecil
. Sehingga kami pun memutuskan untuk
kembali ke pom bensin. Setibanya di pom bensin, kami menunggu hujan reda di
mushola sambil membahas tentang pertemuan dengan kakek hari ini.
Hari ini kami mendapatkan
pelajaran yang berarti, pengingat bagi kami, sebuah lantunan ayat dalam Surat
Ar Rahman yang dikonversi dalam sebuah cerita dari sosok kakek.
Jazakallah khairan katsiran kakek
Abdul Rahmat sudah berbagi pengalaman hidup dan nasehat untuk kami. Semoga kakek tetap istiqomah dan begitupun
kami.
Selalu ada hikmah dari sebuah
pertemuan. Karena tidak ada pertemuan yang sia sia.
Semua atas ijin Allah =)
Insya Allah wisata hati ini menjadi barokah buat kami dan kakek.. Mengajak mereka yang tahu kisah kakek untuk tetap bersemangat beribadah, selalu bersyukur, dan semakin giat berbagi kebaikan dengan sesama...
Insya Allah wisata hati ini menjadi barokah buat kami dan kakek.. Mengajak mereka yang tahu kisah kakek untuk tetap bersemangat beribadah, selalu bersyukur, dan semakin giat berbagi kebaikan dengan sesama...



