Entri Populer

Sabtu, 27 Desember 2014

Wisata Hati melalui Setumpuk Koran




Demi Masa…
Jadikanlah aku , keluargaku dan sahabat sekalian menjadi pengecualian orang2 yang merugi..
Berikan inspirasi pada nalarku mengiringi jari jemariku…
Untuk mengabadikan skenario skenario Mu Yang Maha Baik…

 -------------------------------------------------------------------------------------------

Hujan di Ibukota di pagi hari ini, seperti de javu untukku, situasi yang sama beberapa minggu yang lalu, di sebuah mushola kecil di Pom bensin PAL Batu, ada perbincangan yang hangat di tengah hujan deras bersama  para sahabat… 


Dan aku pun teringat perkataan salah seorang sahabatku …

“Ketika kita bertemu dengan mereka yang keadaanya tidak lebih baik dengan kita dan berfikir bahwa mereka memerlukan pertolongan kita. Padahal tidak selalu mereka yang membutuhkan pertolongan kita, tetapi terkadang kitalah yang butuh orang- orang seperti mereka sebagai pengingat sekaligus mengambil pelajaran/ nasehatnya”


Tumpukan koran yang tertumpuk di sudut kursi di depan sebuah pom bensin…

Memiliki cerita dalam lembarannya…


Cerita yang seperti sebuah tamparan kasat mata di siang hari bagiku…

Sosok kakek penjual koran itu seperti mengkonversi  lantunan ayat dalam Surat Ar Rahman berulang ulang kali di hadapanku dan sahabat-sahabatku.
فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٦)

“Fabiaayi a’la irrobikuma tukadziban”…QS Ar Rahman, 55 :16

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Beberapa minggu yang lalu, salah satu sahabatku, intan, bercerita di blognya mengenai  pertemuannya dengan seorang kakek penjual koran  di Pom Bensin PAL Batu, seberang kota kasablanka mall.

Kakek yang menarik perhatiannya, karena di umurnya yang sudah renta ,  dengan kondisi penyakit yang dideritanya . Kakek ini kehilangan seluruh batang hidung, bibir bagian atas, dan mata sebelah kanan akibat penyakitnya. Bagian hidup hingga bibir bagian atasnya ditutupi plester.



Intan teringat kata2 seorang temannya di blog ;

“ Kakek – kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi, carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari merekam meski kita tidak membutuhkanya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”

Lalu Intan pun menghampiri kakek untuk  melihat lebih dekat dan sekaligus membeli koran yang sedang dijualnya. Betapa terkejutnya dia, karena surat kabar yang dijual kakek dijual dengan harga yang tergolong wajar. Contohnya surat kabar harian kompas hanya dijual seharga Rp. 5,000.00.


Kabar tentang kakek pun jadi pusat perhatian di salah satu grup whats-up kami . Karena setiap kali intan pergi mengisi bensin,ia mengusahakan untuk  membeli koran, dan berbincang dengan si kakek. Sehingga  dari hari kehari informasi mengenai kakek dan kehidupannya pun kami peroleh melalui dek intan. Kami pun  berdiskusi mengenai hal2 yang bisa membantu kakek.  



Disela-sela perbincangan di grup itulah, salah satu sahabatku akhway, nge-post satu kalimat yang membuat kita lalu merasa uwoooo,,, that’s right!

Kalimatnya itu :

“Tidak selalu orang yang kita anggap butuh pertolongan kita, tetapi kitalah yang butuh orang- orang seperti mereka sebagai pengingat sekaligus mengambil pelajaran/ nasehatnya” - akhway


Selang beberapa minggu, akhirnya di suatu sabtu siang, aku dan kedua sahabatku, cicit dan ilmi janjian untuk menemui kakek di Pom Bensin PAL Batu, tempat ia berjualan. Saat itu aku yang pertama kali tiba di pom bensin. Aku mulai celingak celinguk mencari sosok kakek penjual koran itu. Tapi sejauh mata memandang, aku tak menemukan sosok kakek.

“Apa kakek sudah pulang ya kerumahnya ?“pikirku.

Masih penasaran,  aku pun bertanya pada petugas Pom bensin.  Petugas pom bensin itu memberitahu, bahwa kakek penjual koran itu biasanya  sudah pulang ke rumahnya jika sudah jam 10 dan akan kembali lagi sekitar pukul 3 sore.


Tak lama kedua sahabatku pun datang , lalu aku kasihtau mereka bahwa kakek   sudah pulang ke rumahnya. Kami pun memutuskan untuk datang kembali ke Pom Bensin sekitar jam 3 sore.  Untuk memastikan bahwa kakek tidak keburu pulang lagi, aku menitipkan pesan pada penjual buah yang ada disana, Sambil membeli  melon . hehe


Pak,kakek  penjual koran yang disini sudah pulang ya pak?

.“Wah tadi sih ada mbak, kayaknya sudah pulang kalau jam segini. Tapi biasanya nanti jam 3 sore biasanya kakek kesini lagi” jawab penjual buah.

“ Pak, tolong nanti kalau kakek kesini lagi sore hari, sampaikan bahwa kami teman2 dari wanita berkerudung yang pagi2 suka beli koran dan  mengobrol dengan kakek , mau bertemu dengan kakek.

Jadi kalau bisa,  kakeknya  jangan dulu pulang ya pak.”

“Iya mbak, nanti saya sampaikan”. Jawab penjual buah

“Terimakasih ya pak” ucapku sambal tersenyum.


Lalu aku dan sahabatku2 pergi mencari makan siang sambal menunggu jam 3. Tak lupa juga untuk update info  whats-up grup bahwa aku tidak menemukan kakek penjual koran dan akan kembali kesana sekitar pukul 3 sore.


Sekembalinya di jalan menuju pom bensin, kami melihat sosok kakek penjual koran itu. Beliau sedang berjalan hendak meninggalkan pom bensin dengan membawa kantong plastik. Lalu kami pun cepat-cepat menghampirinya.


“Permisi kek, kami temannya intan yang sering mengobrol dengan kakek pas  beli koran.” kataku sambil memperkenalkan diri .

Kakek pun menganggukan kepalanya, sambal berkata “ Oh iya iya. Tadi tukang buah bilang ada yang mau ketemu dengan saya, jadi saya tungguin. Cuma karena saya mau sholat jadi saya berencana pulang dulu ke rumah. “


Kemudian kakek pun mengajak kami ke arah meja dan kursi, tempat sales mobil yang sedang promosi. Kebetulan kosong, dan kakek sudah kenal sama sales2 nya, jadi ya kita bisa duduk disitu sambil mengobrol bersama kakek.


Aku  memperhatikan sosok kakek yang aku tahu hanya dari cerita intan dan foto yang di share nya .

“Ya Allah” kataku dalam hati.

Bagian hidung kakek hingga bibir atas tertutup oleh plester. Bagian mata kanan kakek pun sudah tidak ada. Kakek hanya dapat mata kirinya untuk beraktifitas.


Kami agak sulit mengerti kata2 kakek, karena bagian atas bibirnya sudah tidak ada, sehingga kata yang  diucapkan itu tidak terlalu jelas terdengar. Ketika  mengobrol dengan kakek, aku harus mendekatkan kursiku dan berkonsentrasi agar dapat mendengar kata-kata kakek dengan lebih jelas.


Ya Allah, “Fabiaayi a’la irrobikuma tukadziban”… “Fabiaayi a’la irrobikuma tukadziban”…

Ayat2 Al – Quran itu terus terbesit dikepalaku, setiap kata2 yang kakek ucapkan seperti lantunan yang mengingatkan aku akan ayat dalam Surat Ar Rahman.


“Bagaimana kabarnya kek?” tanyaku

“Alhamdulillah baik.” Jawab kakek

“Korannya sudah habis terjual ya kek?” kata cicit

“ Iya alhamdulillah, sudah tadi terjual semua” jawab kakek sambil tersenyum.

“Kakek sudah lama bekerja disini?” kataku

“Ya sudah cukup lama” kata kakek

“Rumah kakek dimana?” tanya cicit

“Rumah saya di belakang”, jawab kakek sambil menunjuk ke arah belakang pom bensin.

“Saya tinggal sama anak saya.  Anak saya ada 6 orang, Sekarang saya tinggal bersama anak saya yang rumahnya dibelakang pom bensin. Dia kerjanya satpam.” Jelas kakek.

“Saya menyekolahkan anak saya hingga SMA dari hasil mengamen” tambah kakek.

“Wah, berarti suara kakek boleh juga ya,” jawabku sampai tersenyum

Dan kakek pun ikut tersenyum

Tiba-tiba kakek bercerita, ”Istri saya sudah meninggal 2 tahun yang lalu, meninggalnya saat sedang melaksanakan sholat shubuh. Saat sujud kedua tidak bangun lagi, kakek bercerita dengan senyum tipis. Kakek bercerita sambil mengingat sosok istrinya.

AKu, cicit, dan ilmi serentak mengucapkan masya Allah.

“Alhamdulillah, semoga khusnul khotimah istri kakek” kata cicit


Sepertinya kakek sedang merindukan istrinya J dan kurasa kakek benar-benar mencintai istrinya.  Bayangkan sajah, Kakek  menderita sakit sejak tahun 82 dan selama itu pun sang istri menemaninya dalam melawan penyakitnya.


Ya, kakek telah menderita sakit sejak dari tahun 82. Beliau sudah mencoba berobat kesana kemari. Berobat ke rumah sakit khusus kanker yang ada di Jakarta pun pernah. Tetapi , memang untuk masalah biaya, kakek menggunakan dana pribadi, hasil menjual rumahnya yang ada di BIMA. Karena tidak ada bantuan untuk meng-cover semua biaya operasinya. Kakek sudah dioperasi sebanyak tiga kali. Saat ini pun kakek disarankan untuk operasi lagi. Tapi kakek memilih untuk tidak melakukan operasi. Ya mungkin karena pertimbangan biaya dan umur yang sudah tua.


"Kek, sudah mendapatkan bantuan   dari pemerintah yang baru2 ini dibagikan?”tanyaku

“ Tidak dapat” saat itu kakek menjawab sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

“tapi di pemerintahan sebelumnya pernah mendapatkan bantuan sekali” tambah kakek.


Entahlah apa belum dapat atau tidak dapat, tapi kakek tidak mengeluhkan atau complain tentang pemerintahan secara berlebihan di depan kami.  Kakek lebih senang berbicara tentang kehidupanya, perjuangannya dan pengalamannya selama ini.

Oia, meskipun kakek terserang penyakit di bagian mukanya, keadaan fisik kakek secara umum terlihat sehat dan untuk berjalan pun masih tergolong berenergi untuk  seumuran kakek.


“Kek, apa sih rahasia kakek agar tetap bersemangat dan sehat” Tanya cicit

Kakek pun memberitahu kami resep semangat dan kebugaran miliknya. Kami agak kesulitan ketika  kakek  menasehati kami agar membaca nama surat dalam Al Quran.


Cicit pun berkata “ Bentar kek ditulis saja,.”

Lalu aku mengeluarkan note book dan pulpen dan memberikan pada kakek untuk menuliskan surat yang dimaksud.

“Al Kahfi”, tulis kakek.

Kami bertiga serentak berkata ‘”oooo, Al Kahfi”

Kakek melanjutkan menuliskan nama surat   Ar Rahman dan “Tabarakalladzi”.

Ilmi lalu berkata “Itu surat Al Mulk”

“Mungkin kakek tidak hapal kalau nama suratnya Al Mulk dan hanya mengingat ayat pertamanya saja yang sering dibacanya.” pikirku


Berikut  poin-poin penting nasehat dari kakek yang kami rangkum :

1. Jangan pernah meninggalkan sholat 5 waktu

2. Lakukanlah sholat dhuha dan tahajud

3. Selalu baca Al Quran meski Cuma 1 ayat sehari

4. Membaca Surat Al Kahfi pada malam Jumat/hari Jumat

5. Membaca Surat Al Mulk

6. Menghormati kedua orang tua

7. jangan lupa selalu terenyum karena senyum itu adalah ibadah

8. Selalu berbagi dan memberi

9. Sabar dan tabah dalam menjalani kehidupan dan percaya pada pertolongan Allah


Tentang menghormati kedua orang tua, kakek menceritakan saat terakhir beliau pulang ke BIMA. Sebelum orangtuanya meninggal,  alhamdulillah kakek masih sempat untuk bersimpuh di kaki kedua orangtuanya untuk  meminta maaaf .

Kakek bercerita sambil meneteskan air mata.Kami yang mendengarnya jadi ikut terbawa suasana haru.

Begitupun aku, yang saat itu langsung teringat kedua orang tuaku.


“Kakek, sebenarnya saya dan teman2 lainnya yang hari ini tidak hadir, berencana untuk silaturahmi ke rumah kakek.” Kataku

“Boleh boleh. Tapi kalau mau ke rumah, kasih tau saya  sebelumnya. Takutnya, saya sedang tidak di rumah anak saya, yang di belakang pom bensin.  Karena terkadang saya tinggal di rumah anak saya yang lain.” jawab kakek

“Baik kakek, nanti kalau kami mau silaturahmi ke rumah kakek, intan atau teman kami yang lain akan ke pom bensin, untuk memberitahu kakek.” kataku


Sebelum berpamitan, kami memberikan kantong berisi plester  dan kain kasa untuk kakek. Aku dan teman – temanku memang berniat untuk membelikan plester dan kain kasa.


Sebelumnya intan bercerita kalau kakek harus ganti plester setiap habis berwudlu.   Salah satu temanku, yang dipanggil uni, seorang apoteker, jadi aku bisa  bertanya-tanya perkiraan kebutuhan plester dan kasa untuk kakek selama sebulan.

Sekedar sharing sajah untuk informasi, Harga plester di suatu apotek merk leucoplast ukuran 2.5 cm x 5m/pc itu sekitar Rp. 34,000.00 dan kain kasa 4mx8cm seharga Rp. 12,000 atau Rp 18,000 untuk merk yang berbeda  sedangkan kasa kotak 16 pcs seharga Rp, 9,000 atau Rp 5,000 untuk merk yang berbeda.


Jika kakek mengganti plesternya setiap habis sholat kemungkinan setiap minggu akan membutuhkan ±1 roll plester dan± 1 roll kasa. Kalau dijumlahkan,dalam waktu seminggu kakek membutuhkan ±Rp, 46,000 untuk biaya plester yang menutupi bagian hidungnya.

Kakek menerima plester dari kami  sambil tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Kemudian kakek mendoakan kami semua. Doa pun diakhiri dengan membaca Al Fatihah bersama. Lalu kami mengaamiinkan dengan penuh semangat.


Semoga kakek pundiberikan rejeki dan kesehatan dan semoga banyak orang yang mau membantu kakek, setidaknya untuk mengurangi pengeluaran kebutuhan kakek. Aamiin


Lalu kakek berpamitan pulang . “Assalammualaiykum” ucap kakek

Dan kami bersama sama menjawab “waa’laiykumsalam”


Tak lama, sahabat kami, intan datang. Intan memang berencana untuk ikut bertemu dengan kakek. Namun karena ada kerja overtime di kantornya, dia baru bisa datang pada sore hari.

Karena kakek sudah pulang,  Intan mengajak kami untuk ke rumah kakek. Lalu intan membuka isi dompetnya dan mengeluarkan secarik kertas yang tertulis  alamat rumah kakek.


Kami menyusuri jalan yang ada di sebelah pom bensin  dan berhenti di depan warung untuk  bertanya pada pemilik warung di pinggir jalan.  Saat kami tanyakan alamat kakek, bapak- bapak disana kebingungan dan saling bertanya satu dan lainnya.

Lalu aku  berkata “Sebenarnya kami cari alamat  rumah kakek2 yang penjual koran di pom bensin di pal batu . Kakek yang pake plester di bagian hidungnya, ada yang tau kah pak?”

“Oh, kakek itu” bapak2 itu serentak menjawab dan menunjukan arah rumah kakek .


Kami mengikuti petunjuk arah lalu menemukan pemukiman padat penduduk.  Namun hujan tiba-tiba turun dengan deras, dan hanya 2 orang  dari kami yang membawa payung dengan ukuran kecil . Sehingga  kami pun memutuskan untuk kembali ke pom bensin. Setibanya di pom bensin, kami menunggu hujan reda di mushola sambil membahas tentang pertemuan dengan kakek hari ini.


Hari ini kami mendapatkan pelajaran yang berarti, pengingat bagi kami, sebuah lantunan ayat dalam Surat Ar Rahman yang dikonversi dalam sebuah cerita dari sosok kakek.


Jazakallah khairan katsiran kakek Abdul Rahmat sudah berbagi pengalaman hidup dan nasehat untuk kami.  Semoga kakek tetap istiqomah dan begitupun kami.

Selalu ada hikmah dari sebuah pertemuan. Karena tidak ada pertemuan yang sia sia.

Semua atas ijin Allah =)

Insya Allah wisata hati ini menjadi barokah buat kami dan kakek.. Mengajak mereka yang tahu kisah kakek untuk tetap bersemangat beribadah,  selalu bersyukur, dan semakin giat berbagi kebaikan dengan sesama...