Entri Populer

Selasa, 31 Maret 2015

Ayah dan ibu :The Great First Love and Guardian Angel

Demi Masa…
Jadikanlah aku , keluargaku dan sahabat sekalian menjadi pengecualian orang2 yang merugi..
Berikan inspirasi pada nalarku mengiringi jari jemariku…
Untuk mengabadikan skenario skenario Mu Yang Maha Baik…

 --------------------------------------------------------------------------


-Ayah dan ibu  -
-The Great First Love and Guardian Angel -
Aku tidak ingat seluruh kejadian diwaktu aku masih balita dulu.
Bagaimana  ayah dan ibuku selalu terjaga setiap malamnya karena tangisku.
Bagaimana  mereka selalu berusaha membuatku tersenyum dan menghentikan tangisku.
Aku tidak mengingat semua , bagaimana upaya mereka dalam membesarkanku.
Mengajariku dari mulai berbicara,berjalan, berlari, naik sepeda, membaca..
Aku disekolahkan di sekolah dengan biaya yang cukup mahal bagi kami yang hanya berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Karena itu,  aku bertekad untuk belajar lebih tekun tentang ilmu pengetahuan.
Ayahku seorang pegawai sedangkan ibuku adalah ibu rumah tangga… Penghasilan ayah yang masih kurang untuk membiayai ketiga anaknya membuat ibu berpikir bagaimana mencari tambahan pemasukan… Ibu pun bekerja untuk menambah biaya sekolah kami, dengan berjualan makanan di kantin tempat ayah bekerja.
Biasanya setiap jam 3 pagi ibu sudah bangun untuk memasak untuk sarapan keluarganya dan  masakan yang akan dijual di kantin. Aku saat itu masih sekolah tingkat SMP sedangkan adiku yg kedua dan ketiga di SD. Aku tidak dapat membantu banyak untuk ibu dalam memasak, dan memang ibu tak terlalu suka jika aku terlalu ikut andil membantunya. Ibu ingin aku konsenterasi dalam sekolah dan belajarku dan  membantu adik-adikku dalam menyiapkan persiapan sekolah. Setiap pagi ayahku mengantar adik-adiku ke sekolahnya. Sedang aku pergi dengan menggunakan kendaraan umum. Tak lama dari itu, ibu akan menuju kantin kantor ayah untuk berjualan. Ayah akan menuju tempatnya bekerja hingga sore hari lalu menjemput ibu di kantin. Setelah itu ayah akan melakukan pekerjaan sampingan di bengkel untuk penghasilan tambahan. Sedang aku dan adik-adikku, sore hari kami pergi ke TKA &TPA Al Quran di dekat rumah untuk belajar mengaji.

Aku melihat mereka  kelelahan, ayah dan ibu…
Tapi tak pernah kudengar keluhan dari mereka…
Mereka selalu mengajariku banyak hal dari aku kecil hingga aku tumbuh menjadi seorang gadis remaja . Mereka tetap mengajariku mengenal dunia ini lebih banyak
Mereka tidak membiarkanku  beranjak untuk mengenal dunia ini sendiri. Mereka membekaliku banyak hal terutama mengajari kami anak-anaknya untuk mengenal Tuhannya, Sang Maha Pencipta…
Ketika tengah malam aku terbangun untuk mengambil segelas air. Aku sering melihat mereka sedang sholat atau duduk bersimpuh berdoa. Aku tau mereka sedang menjagaku dan keluarga kami dalam  tiap doanya.

-          Ayah dan Ibu-  Bersama Toga Kelulusan -
Beberapa tahun setelah mempelajari tentang ilmu perpajakan, akhirnya aku membereskan kuliahku dan  menjadi seorang sarjana seperti harapan kedua orangtuaku.
Aku melihat kedua orang tuaku tersenyum bahagia.. Senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya. Akupun merasa bahagia bercampur sedih karenanya.
Seperti mahasiswa yang baru lulus pada umumnya, aku pun mencari info lowongan pekerjaan dari kakak kelas yang sudah bekerja, info di internet ataupun pengumuman di mading kampus.
Setelah dipertimbangkan,  aku pun mengirim surat lamaran pekerjaan dan CV ke beberapa perusahaan yang menurutku sesuai. Selang beberapa minggu, Alhamdulillah,  aku menerima panggilan tes psikotes , tertulis dan wawancara di suatu perusahaan yang bonafit.
Aku memberitahu ayah dan ibu tentang kabar gembira tersebut. Aku pun melihat kedua orang tuaku tersenyum bahagia. Ini kedua kalinya aku melihat ayah dan ibu tersenyum bahagia seperti saat aku wisuda. Mata mereka terlihat berkaca- kaca sambal mengucapkan Alhamdulillah beberapa kali. Mereka bersyukur  karena aku mendapatkan pekerjaan yg mempunyai prospek yg baik untuk karirku.
Tapi pekerjaan ini membuat aku harus pergi ke ibu kota dan jauh dari keluargaku. Sedih rasanya karena aku belum pernah pergi jauh dan berpisah dari orangtuaku.
Mereka terus menyemangatiku, memberikan aku wejangan untuk bisa menjaga diri didalam kehidupan di ibu kota. Meski mereka tidak mengungkapkan kesedihannya, tapi aku melihat dari sorot mereka yang sedih dan khawatir.

-Ayah dan Ibu, maaf anakmu sungguh disibukkan di Ibu Kota ini-


Ibu Kota….
Aku bagai seorang yang asing di ibu kota ini, kota yang tidak pernah aku datangi sebelumnya.
Tak ada kerabat satupun disini… aku benar-benar harus mandiri
Kesibukan pekerjaan menuntunku sering bekerja lembur bahkan pada weekend.
Sehingga aku jarang pulang ke rumah untuk mengunjungi kedua orangtuaku dan adik-adiku.
Paling aku hanya menelepon mereka itupun tidak setiap hari .  Mendengar suara mereka yang kegirangan menerima teleponku mengobati rinduku…
Tapi aku tau rinduku tak sebanding dengan rindu mereka, orangtuaku….

-          Ayah dan Ibu, ridhoilah aku menuju pelaminan -
Selang dua tahun  semenjak bekerja di ibu kota, aku bertemu seorang pria yang mengajaku untuk menikah. Aku pun lalu membawanya ke rumah untuk diperkenalkan kepada ayah, ibu dan adik-adikku.
Aku tanyakan pendapat orangtuaku mengenai dia, lelaki yang memberanikan diri untuk bertemu dengan kedua orangtuak u ini.  Entah apa yang ayahku pikirkan, cuma saat terdengar adzan dzuhur  itu ayah tiba-tiba bilang ingin mengajaknya sholat berjamaah di masjid. Mereka pun lalu pergi berdua kearah masjid.  Di rumah sembari menunggu, ibu menanyakan banyak  hal dan dengan detail mengenai sejauh mana aku mengenal lelaki yang sedang bersama ayahku di masjid. Tapi anehhya, setelah 1 jam semenjak pergi ke masjid,  mereka belum kembali juga kembali. Aku jadi gelisah karenanya.
Setelah 75 menit menunggu, akhirnya mereka kembali. Sekembalinya dari masjid, ayah mengucapkan salam dengan semangat dan tersenyum manis kepada kita semua yang menunggunya dengan cemas..
Ternyata selama  di masjid  itu,  ayah mengajaknya berdiskusi. Baiklah, mungkin banyak diskusi2 dan pertanyaan yang ayahku tanyakan pada dia..
Ayah bilang bahwa dia dan ibu merestui kami untuk menikah.  Aku bertanya kepada ayahku, kenapa menyetujuinya, Ayah  hanya berkata, “Setelah mengajukan beberapa pertanyaan dan  berdiskusi panjang lebar ,  merujuk pada firasat seorang ayah dan  seorang lelaki, ayah menyetujuinya”
Tak lama dari pertemuan itu, kedua orangtuanya datang untuk melamarku dan menentukan hari pernikahan. Selang 6 bulan dari  hari lamaran itu kami pun melangsungkan pernikahan.
Saat ijab qabul, Aku melihat ketegangan dibalut kebahagian yang haru  terpancar di mata kedua orangtuaku. Alhamdulillah Ijab Qabul berjalan lancar dan SAH. Selesai ijab qabul ada prosesi sungkeman kepada orangtua yang  aku dan suamiku lakukan. Orangtuaku dan mertuaku duduk di kursi yang sudah disediakan. Lalu kami pun melakukan sungkeman dengan mata yang berkaca kaca lalu menangis karena tak kuasa menahan air mata. Kali ini aku melihat kedua orangtuaku merasakan perasaan emosinal yang lebih dalam, rasa bahagia campur aduk yang belum pernah kulihat sebelumnya, jauh lebih emosional dibanding saat aku lulus kuliah ataupun mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Seumur hidupku, aku pernah melihat ibu menangis, tapi ayah, aku baru melihat air matanya di hari ini, hari dimana aku menikah…

-Ayah dan Ibu sayang sekali cucunya -
3 bulan kemudian setelah hari pernikahanku,aku merasakan rasa mual, pusing yang amat hebat. Aku pun pergi ke dokter untuk memeriksakan penyakitku. Dokter memberitahukan kabar gembira kalau  aku positif  hamil.
Masa kehamilan itu masa-masa dimana ibu lebih memperhatikanku. Perhatiannya lebih-lebih dibanding saat aku dulu sekolah , kuliah,  ataupun menghadapi skripsi.
Setiap hari, ibu selalu lebih awal menghubungiku, menanyakan kabarku, menasihatiku, memberikan aku wejangan2 berdasarkan pengalamanya.  Hanya untuk memastikan aku bisa melewati tahap ini dengan sehat dan selamat.
Ketika anakku lahir kedunia, ayah dan ibu seperti menjadi orang paling bahagia melebihi kebahagiaan yang kurasa.
Aku belum pernah melihat mereka sebahagia ini, lebih bahagia dibanding saat aku lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan yang bagus, ataupun menikah…
Mereka akan lebih rajin menghubungiku, berkunjung ke rumahku terutama cucu kesayangan mereka. Lama-lama, anakku ini bisa membuat aku iri. hehehe
Kilas balik,,,,
Rasa bahagia ketika menggendong cucu mereka itu ternyata lebih membuat mereka bahagia  dibanding saat aku memberikan sebagian gaji pertamaku, membelikan sepatu, baju dan tas dan lainnya.
Karena saat itu meski mereka senang pasti selalu ada pertanyaan yang mengikuti, berapa harganya? apa uang tabunganku masih cukup?
Kemudian ayah dan ibu selalu bilang padaku agar aku pandai pandai menyimpan uangku, menabungnya untuk masa depanku, bahkan ketika aku ingin membantu mereka untuk membiayai adik adikku yang masih bersekolah. Mereka tetap mengatakan  agar aku pandai-pandai menyimpan uang untuk masa depanku. Selama orangtuaku mampu, mereka tidak ingin terlalu membebaniku.



Ayah dan Ibu, rasanya aku ingin pulang ke rumah
Pernah suatu hari ketika ibu sedang menginap dirumahku, ibu melihatku menangis karena ada masalah dengan suamiku yang menyebabkan kami bertengkar.
Dia memandangiku dengan iba, mencoba mendekatiku dan menenangkan aku.
Aku tidak pernah melihatnya begitu sedih, bahkan tidak pernah sesedih saat ayah dan ibu dulu kekurangan uang untuk membiayai kami sekolah, hingga kami harus makan hanya dengan sayur, tahu dan tempe.
Ibu menasehatiku dan mengajariku untuk sabar dalam menghadapi ujian ini “ setiap manusia itu pasti memiliki masalah, tidak ada jalan yang amat mulus di dunia ini. Sikapilah dengan sabar dan bijak, semua yang berasal dari Allah, kembalikanlah padaNya. Ujian ini datang dari Allah untuk mengajarimu dan mendidikmu menjadi manusia yg lebih bernilai baik. Semua hal yg terjadi memiliki alasan yg kelak engkau akan mengerti” ucap ibu
Dan ayah, ketika ibu memberitahunya.. ibu bercerita kepadaku kalau ayah belum pernah terlihat sedongkol ituh. Ingin sekali rasanya ayah menasehati bahkan memarahi suamiku, tapi tak bisa. Ayah tahu bahwa itu hanya akan membuat kami tidak akan pernah belajar dan memahami arti sebenarnya dari keluarga, memepertahankan komitmen yang sudah kami buat. Jadi ayah hanya berbicara kepada ibu agar menasehatiku.
Memang aku tidak mengerti apa maksudnya hingga aku mampu melewati semua permasalahan itu, dan belajar bnyak hal yg membuatku semakin bijak.


-Ayah, Sakitkah rasanya?-
Ayah, sakitkah rasanya? Apakah kau mau membagi sakitmu? Katakan saja jika itu sakit, tapi engkau tidak bilang apa2 nya. Aku hanya melihat keningmu mengkerut dan bibir meringis menahan rasa yang tertahan
Saat usianya 63tahun, ayahku difonis sakit gagal ginjal, membuatnya harus melakukan hemodialisis/ cuci darah terus menerus  agar racun yang ada di dalam tubuhnya bisa terbuang. Awal perawatan, ayahku hanya perlu cuci darah 2 minggu sekali.  Proses hemodialisis sendiri memerlukan waktu 4-5 jam. Hanya saja, aku tidak bisa menemani ayahku setiap kali cuci darah, karena  bentrok dengan jadwal aku bekerja, kecuali saat weekend, aku pasti akan menemani ayah pergi ke rumah sakit untuk melakukan hemodialisis. Ayahku sering mengajak anakku atau anak adikku untuk menemaninya ke tempat cuci darah,
Setelah 6 tahun perjuangannya, mulai terlihat tanda2 yang berbeda dari fisiknya. Kulit kakinya  mulai berubah menjadi berwarna hitam. Dokter bilang itu karena penumpukkan Fe di permukaan kulit yg tidak terbuang.
Kadar kreatinin nya terus mengalami peningkatan, hingga dari jadwal dua minggu sekali itu ayah harus cuci darah menjadi seminggu sekali, lalu menjadi tiga hari sekali. Hingga pada puncaknya, di suatu hari , ayah harus dibawa kerumah sakit dan masuk ruangan ICU karena komplikasi yang diakibatkan gagal ginjalnya. Badannya yang sekarang benar2 kurus dan menghitam di bagian kulit tangan dan kakinya, mimik mukanya memperlihatkan bahwa ayah sedang menahan sakit.. rasa sakit yang tertahan di bibirnya, hingga ayah tak mengeluh sedikitpun pada kami… Ya Allah, aku sedih sekali, melihat seorang yang dulu sangat gagah dan kuat sekarang terbaring tak berdaya . Alat-alat Hemodialisa , ECG(pemeriksaan heart rate),Sp02 (Saturasi darah), NIBP (tensi) dan lainnya sudah berada disamping pembaringannya  untuk setiap hari memonitor keadaan dan  membantunya bertahan .
Entahlah apa kami keluarganya harus terus membiarkan ayah dirawat disini atau pulang saja ke rumah. Suatu waktu, ketika sedang menunggu di ruangan ICU, adikku bercerita dengan raut muka sedih,”Tadi ayah tersadar, dia bilang dia ingin pulang”. Aku tertegun, dan dalam hati berkata,  “Ayah, apakah engkau mau pulang ke rumah kita atau pulang ke rumah keabadian? Bertemu dengan Rabb yang engkau cintai”
Ayahku hanya bertahan 2 minggu di ICU, di akhir hayatnya, aku tidak sempat menyaksikan atau membimbingnya mengucapkan kalimat tauhid saat sakratul maut. Saat itu hanya ada kedua adikku yang berada di sampingnya . Alhamdulillah di akhir hayatnya sebelum menghembuskan nafas yang terakhir, ayah bisa mengucapkan kalimat “Lailahaillah Muhammad Rasulullah” Kalimat yang selalu menjadi impian setiap muslim untuk dapat mengatakannya sesaat sebelum nafas sampai di kerongkongan dan ruh terlepas dari jasad. Semoga ayahku meninggal dengan khusnul khotimah..
Air mataku bercucuran saat menerima berita bahwa ayah telah meninggal. Sedih sekali rasanya, tak bisa diwakilkan oleh kata-kata.   Meskipun aku yakin kalau kita semua memang suatu waktu akan pulang, pulang ke rahmatullah, tempat untuk kehidupan yang abadi…


Kembalinya seorang hamba kepada Sang Khalik
Pernahkah kau sadari, bahwa ketika seseorang meninggal… semua proses pengurusan jenazah hingga pemakamannya ,  menunjukan bagaimana dia hidup di dunia?
Ayahku yang sudah dimandikan dan dikafani di Rumah Sakit dibawa menggunakan ambulans ke rumah ibu. Menunggu beberapa jam hingga keluarga  dari ayahku dan ibuku berkumpul. Masya Allah banyak tetangga, teman-teman alm ayah dan ibu silih berganti berdatangan untuk takziyah, mengucapkan belasungkawa. Begitupun saat shalat jenazah, Mesjid yang cukup besar ini dipenuhi oleh mereka yang ingin sholat jenazah. Bahkan penuhnya seperti sedang sholat taraweh saat Ramadhan ataupun saat sholat Jum’at.
Aku berada di mobil di belakang mobil jenazah yang menuju pemakaman. Saat akan berangkat, aku melihat ke arah belakang. Masya Allah, banyak sekali iringan mobil-mobil tetangga dan teman-teman alm. ayah yang akan menuju pemakaman. Bahkan ada bus yang sengaja dipinjamkan dari tempat kantor ayah dulu saat bekerja.
Aku tak tahu bagaimana detailnya sikap dan perilaku ayahku terhadap semua teman-temanya dan tetangganya selama hidupnya. Yang aku tahu, ayah memang ramah dan perhatian terhadap setiap orang yang dia kenal. Dalam memoriku, ia adalah ayah yang terbaik bagiku, sosok yang rajin beribadah, bertanggung jawab, tegas, namun penuh kasih sayang. Aku sangat bersyukur karena ditakdirkan  menjadi anaknya.
Semoga Allah mengampuni, menyayangi dan memberikan tempat terbaik bagi alm. Ayah di alam barzah.
Ayah, I will always Love You and remember you as my first love..

Ya Allah Sayangi Ibuku
Ya Allah, aku merasa ada rasa sedih yang mendalam dalam hatiku semenjak kembalinya ayah ke sisi-Mu. Aku sedih karena merasa menyesal selama masa tuanya aku kurang begitu totalitas berbuat baik kepadanya dan kurang menghabiskan waktu bersamanya . Salah satu penyebabnya karena kami tinggal dikota yang berbeda. Biasanya aku mengunjungi ayah sekitar 2 minggu sekali atau bahkan pernah sebulan sekali ketika aku punya acara di hari weekend atau pergi bersama suamiku dan anak-anakku.
Karena alasan itulah,  setelah kepergian alm. ayah,aku meminta  ibu untuk tinggal bersamaku. Hingga aku bisa terus bersama ibu di masa tuanya dan agar ibu tidak akan merasa kesepian di rumah. Setidaknya, ketika tinggal bersamaku, ibu akan terhibur oleh cucu-cucunya.
Ibu….
Aku tidak pernah tau takdir Allah, tapi kematian itu adalah sesuatu yg pasti..
Aku hanya ingin masih bisa memandang wajah ibu setiap hari ,memohon maaf sebanyak-banyaknya kepadamu selagi sempat, merawatmu, memenuhi semua kebutuhanmu…
Meski aku pada ibu tidak akan  pernah sebanding …
Aku tidak akan bisa setelaten ibu saat mengurusku ketika aku masih bayi, bangun tengah malam hanya untuk mengganti popok atau menyusui… Aku tidak akan  sebanding sabarnya,  sesabar ibu mengajariku saat aku berjalan, memapahku, mengajariku kata-kata…
Terimakasih ibu, memberikan aku waktu di sisa umurmu untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang tidak akan pernah bisa sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan dalam membesarkanku…
Ibu, I Love You So Much…You are my guardian angle